#AmosXP { margin-top:50px; margin-right:30px; position: absolute; font-family: 'Age', cursive; font-size: 30px; text-shadow: 0 1px 0 #fff, 0 2px 0 #bbb, 0 3px 0 #aaa, 0 4px 0 #aaa, 0 5px 0 #999, 0 6px 1px #000, 0 0px 3px #000, 0 1px 3px #000, 0 3px 5px #000, 0 5px 10px #000, 0 5px 20px #000; -webkit-transform: rotate(325deg); -moz-transform: rotate(325deg); -o-transform: rotate(325deg); writing-mode: lr-tb; }

Plurk

Jumat, 06 Desember 2013

Langkah kakiku ini
tak lagi mampu untuk
mengejarmu,maka biarkan
aku tetap dalam pijakanku
yang mulai terasa kaku,

karena aku telah benar''lelah dan tak ingin paksakankehendak hatimu dan memaksalangkah ini untuk menggapaimu,


maka tetaplah kau disitu dan
jangan kau beranjak pernah
beranjak dari tempatmu,biar
aku tak lagi bisa mengganggu
keinginan hatimu .






Terlalu rendah rembulan malam ini
Serasa sampai jemari meraihnya
Saat tangan teracung menggapai
Ternyata langit masih tinggi

Dan terlihat, mega mengerubung cahaya
Hingga sesaat tampak pudar
Gelap tanpa binar.
Suram menyelimuti hati yang kelam

Harus kemana lagi...
Ku cari cahaya hidup ini
Sebagai pelita penerang hati
Menuju titik terang nanti

Entahlah,.....
Hanya kegundahan yang bersarang
Terus menghantam karang hati
Meruntuhkan ketabahan
Hingga renik terkapar.

Aku tak sanggup lagi berdiri
Bahkan menginjakan kaki
Terasa luluh belulang
Berselubung kafan kematian.
Ya kematian asa
dalam purnama
yang enggan bersenggama.

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More